Blogroll

Rabu, 15 Februari 2012

Laporan Praktikum MENGGUNAKAN MIKROBA DALAM PEMBUATAN DONAT


LAPORAN HASIL PRAKTEK



MENERAPKAN DASAR PENGOLAHAN DAN PENGAWETAN
BAHAN HASIL PERTANIAN
(MENGGUNAKAN MIKROBA DALAM PEMBUATAN DONAT)




Nama : Bob Prima Pujakusuma
Kelas          : X T.P 2




SMK Unggul Dan Terpadu Negara Bumi Ilir
Kec. Anak Tuha Lampung Tengah

PENDAHULUAN
Pembuatan donat merupakan salah satu proses pengolahan dengan memanfaatkan mikroba yaitu jenis khamir Saccharomyces cereviceae yang sering dikenal ragi roti. Saccharomyces cerviceae digunakan sebagai bahan pengembang pada pembuatan donat atau jenis rerotian lainnya karena dapat menghasilkan enzim yang dapat merombak gula menjadi alkohol dan gas CO2. Adanya gas CO2 yang terbentuk selama proses fermentasi mengakibatkan adonan donat mengembang, hal ini juga bisa terjadi karena tepung yang diadoni sifatnya elastis sehingga dapat mengurung gas CO2 yang terbentuk selama proses fermentasi.
Tingkat pengembangan adonan sangat dipengaruhi oleh kekalisan adonan donat dan aktifitas rasi dalam adonan.

Donat (doughnuts atau donut) adalah penganan yang digoreng, dibuat dari adonan tepung terigu, kuning telur, ragi roti, gula putih, mentega, air, dan garam. Donat yang paling umum adalah donat berbentuk cincin dengan lubang di tengah dan donat berbentuk bundar dengan isi yang rasanya manis, seperti berbagai jenis selai, krim, jelly dan custard.
Doughnuts atau olykoeks pertama kali disebut-sebut dalam buku History of New York oleh Washington Irving di tahun 1809.
Donat dalam ejaan tradisional bahasa Inggris disebut doughnut, sedangkan orang Amerika biasa menulis donat sebagai donut atau doughnut. Istilah donut pertama kali digunakan di dalam artikel surat kabar Los Angeles Times 10 Agustus, 1929. Penulis bernama Bailey Millard dengan berkelakar menulis kalimat "can't swallow the 'wel-dun donut' nor the ever so 'gud bred'," sebagai keluhan atas kemampuan mengeja di kalangan orang Amerika yang semakin menurun.
Penggunaan dua cara penulisan, donut atau doughnut ditemukan dalam serangkaian artikel surat kabar The New York Times tentang "National Donut Week" yang meliput World's Fair tahun 1939. Dalam 4 artikel yang dimulai tanggal 9 Oktober 1939, ejaan "donut" muncul 2 kali.
Dunkin' Donuts yang didirikan tahun 1940 dengan nama Open Kettle di Quincy, Massachusetts, Amerika Serikat merupakan perusahaan tertua yang menulis donat sebagai "donut", walaupun sebenarnya perusahaan Mayflower Donut Corporation yang didirikan setelah Perang Dunia II merupakan perusahaan pertama yang menulis donat sebagai "donut".

Asal-usul donat
Asal-usul donat sering menjadi sumber perdebatan. Salah satu teori mengatakan donat dibawa ke Amerika Utara oleh imigran dari Belanda yang juga memopulerkan hidangan penutup lain, seperti: kue kering, pai krim (cream pie) dan pai buah (cobbler).
Cerita lain mengatakan donat berbentuk cincin diciptakan kapten kapal asal Denmark bernama Hanson Gregory. Sang kapten sering harus menyetir kapal dengan kedua belah tangan karena kapal sering dilanda badai. Kue gorengan yang dimakan ketika sedang menyetir ditusukkan ke roda kemudi kapal, sehingga kue menjadi bolong. Kebetulan bagian tengah kue juga sering belum matang, sehingga donat sengaja dibuat berlubang di tengah agar permukaan donat yang terkena minyak bertambah dan donat cepat matang.

Sejarah donat di Indonesia
Di tahun 1968, stan American Donut di Djakarta Fair (sekarang disebut Pekan Raya Jakarta) merupakan perintis donat yang digoreng dengan mesin otomatis. Sejak itu, American Donut memiliki tradisi tahunan membuka stan di Pekan Raya Jakarta hingga sekarang.
Di tahun 1985, Dunkin’Donuts membuka gerai pertama di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat yang terus berkembang menjadi lebih dari 200 gerai di berbagai kota di Indonesia. Yang kemudian diikuti dengan donat-donat waralaba asing lainnya seperti Master Ring, Master Donut, dan Mister Donut.
Demam donat dibangkitkan kembali oleh J.CO Donuts & Coffee yang membuka gerai pertamanya di Super Mall Karawaci pada tanggal 26 Juni 2005. Keberhasilan J.CO diikuti Krispy Kreme yang membuka gerai donatnya yang pertama di Mal Pondok Indah 2 pada tanggal 31 Agustus 2006. J.CO sebagai merek lokal didirikan oleh Johnny Andrean seorang penata rambut terkemuka di Indonesia.
Donat produksi industri kecil biasanya dijajakan berkeliling menggunakan sepeda atau sepeda motor. Di dalam bus, pedagang asongan menjual donat kemasan kotak dengan cara unik. Donat dalam kemasan dibagi-bagikan ke pangkuan penumpang untuk kemudian dikumpulkan kembali kalau penumpang tidak berminat.
Donat jenis ini disebut juga sebagai donat kampung untuk membedakannya dengan donat-donat yang dijual di mal dan restoran


TUJUAN
1.      Siswa dapat menentukan jumlah ragi dan bahan lainnya yang dibutuhkan dalam fermentasi
2.      Siswa dapat menentukan suhu dan waktu dalam proses fermentasi
3.      Siswa terampil dalam melakukan fermentasi pada pembuatan donat






ALAT DAN BAHAN
Alat:
1.      Mixer
2.      Loyang
3.      Sendok
4.      Gelas
5.      Timbangan
6.      Kuas
7.      Kompor
8.      Wajan
9.      Nyiru
10.  Baskom
11.  Jug/literan 1000 ml

Bahan:
1.      Tepung terigu biasa                 100 gram
2.      Tepung terigu cakra                 150 gram
3.      Kuning telur                            1 butir
4.      Bakerin plus (IF)                     2 gram
5.      Ragi roti                                  5 gram
6.      Gula putih                               40 gram
7.      Mentega                                  30 gram
8.      Garam                                      2,5 gram
9.      Air es                                       125 ml
10.  Minyak goreng                        secukupnya

PROSEDUR KERJA
1.      Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam pembuatan donat
2.      Timbang masing-masing bahan
3.      Campurkan secara kering tepung terigu biasa, tepung terigu cakra, bakerin plus (IF), ragi roti, dan gula putih
4.      Aduk dengan mixer hingga merata
5.      Tambahkan air, kuning telur, mentega, dan garam
6.      Aduk dengan mixer dengan kecepatan tinggi hingga adonan menjadi kalis
7.      Lalu timbang adonan
8.      Fermentasikan adonan selama 10 menit
9.      Lalu bentuk adonan dan fermentasikan kembali selama 35 menit
10.  Goreng adonan hingga masak (warna kekuning-kuningan)

DATA PENGAMATAN

1)      Berat terigu awal                                             250 gram
2)      Berat adonan keseluruhan                               500 gram
3)      Berat adonan per satuan                                  30 gram
4)      Tinggi donat awal sebelum digoreng              1,5 cm
5)      Lebar donat awal sebelum digoreng               5 cm
6)      Tinggi donat akhir sebelum digoreng              3 cm
7)      Lebar donat akhir sebelum digoreng               7 cm
8)      Daya kembang donat selama 35 menit
Lebar = 1,4 kali
Tinggi = 2 kali
9)      Warna donat sebelum digoreng                      putih kekuning-kuningan
10)  Warna donat sesudah digoreng                       kuning kecoklatan
11)  Tekstur donat setelah digoreng                       lembut dan empuk
12)  Rasa donat setelah digoreng                           gurih dan manis (diberi mesis)

PEMBAHASAN
1)      Menyiapkan alat
Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa alat dan bahan yang diperlukan sudah siap dan tidak ada alat ataupun bahan yang terlupa.
2)      Penimbangangan bahan
Tujuannya adalah agar bahan-bahan yang digunakan sesuai dengan ukuran yang akan diperlukan.
3)      Pencampuran bahan secara kering
Campurkan tepung terigu biasa, tepung terigu cakra, bakerin plus (IF), ragi roti, dan gula putih secara kering dalam baskom. Pencampuran secara kering ini dilakukan agar waktu pengadukan dengan menggunakan mixer, bahan-bahan lebih mudah tercampur.
4)      Pengadukan dengan mixer
Mixer bahan-bahan yang telah dicampurkan secara kering tadi agar bahan-bahan tercampur secara lebih merata.
5)      Penambahan air, kuning telur, mentega dan garam
Pada saat adonan kering dimixer, tambahkan air sedikit demi sedikit kedalam adonan. Lalu tambahkan kuning telur, mentega dan garam.
6)      Pengadukan dengan mixer dengan kecepatan tinggi
Setelah semua bahan dimasukkan kedalam baskom, aduk dengan menggunakan mixer dengan kecepatan tinggi. Pada saat pengadukan, usahakan mixer tidak terangkat dari adonan agar adonan yang dihasilkan tercampur merata. Aduk hingga adonan menjadi kalis.
7)      Penimbangan adonan
Penimbangan adonan dilakukan untuk mengetahui berat adonan keseluruhan yang telah tercampur merata.
8)      Fermentasi pertama
Fermentasi pertama dilakukan selama 10 menit. Fermentasi ini dilakukan agar adonan mengembang.
9)      Pembentukan adonan
Setelah adonan difermentasi selama 10 menit, bentuklah adonan menjadi seperti cincin atau bentuk lain sesuai dengan keinginan dengan berat masing-masing 30 gram.
10)  Fermentasi kedua
Setelah adonan selesai dibentuk, fermentasikan kembali adonan selama 35 menit agar adonan yang telah dibentuk mengembang dengan maksimal.
11)  Penggorengan
Goreng adonan sampai masak. Ciri-ciri adonan yang telah masak adalah warnanya menjadi coklat.
12)  Pengukuran setelah dibentuk dan setelah difermentasi kedua
Pengukuran dilakukan untuk mengetahui daya kembang donat selama 35 menit.
13)  Hasil
Donat yang telah jadi berwarna kuning kecoklatan, teksturnya lembut dan empuk, serta rasanya gurih dan manis (diberi mesis). Hal ini dikarenakan bahan yang digunakan sesuai dengan ukuran yang diperlukan.

KESIMPULAN

1.      Ragi roti (Saccharomyces cereviceae) dapat membuat adonan mengembang.
2.      Fermentasi dilakukan selama 45 menit agar adonan mengembang dengan maksimal.
3.      Fermentasi dalam pembuatan donat akan maksimal apabila menggunakan alat, bahan, prosedur yang tepat, baik, dan benar.

0 komentar:

Posting Komentar